Pendaftaran Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Kota Depok Jenjang SMP Taun 2026 dikawitan kaping 1 Juni 2026

Artikel & Berita

Bahasa Sunda: Warisan Budaya yang Tetap Hidup di Nusantara
18 May 2026
Oleh: Super Admin
Bahasa Sunda: Warisan Budaya yang Tetap Hidup di Nusantara

Bahasa Sunda merupakan salah satu bahasa daerah terbesar di Indonesia yang digunakan oleh masyarakat Sunda, terutama di wilayah Jawa Barat dan sebagian Banten. Bahasa ini menjadi identitas budaya masyarakat Sunda yang diwariskan secara turun-temurun dan masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari hingga sekarang. Bahasa Sunda memiliki ciri khas yang lembut, sopan, dan kaya akan tata krama. Dalam penggunaannya, terdapat tingkatan bahasa yang disesuaikan dengan usia, kedudukan, dan hubungan sosial penuturnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Sunda sangat menjunjung tinggi kesopanan dan penghormatan terhadap orang lain. Bahasa Sunda telah digunakan sejak zaman kerajaan-kerajaan di tanah Sunda, seperti Kerajaan Pajajaran. Bukti penggunaan bahasa Sunda kuno dapat ditemukan pada berbagai prasasti dan naskah kuno yang ditulis menggunakan aksara Sunda. Seiring perkembangan zaman, bahasa Sunda mengalami perubahan dan penyesuaian, baik dari segi kosakata maupun cara pengucapan. Meski demikian, nilai budaya yang terkandung di dalamnya tetap terjaga. Tingkatan Bahasa Sunda Dalam bahasa Sunda terdapat beberapa tingkatan bahasa, di antaranya: Basa LemesDigunakan untuk berbicara kepada orang yang lebih tua atau dihormati. Basa LomaDigunakan dalam percakapan sehari-hari dengan teman sebaya. Basa KasarDigunakan dalam situasi tertentu dan kurang sopan apabila dipakai sembarangan. Contoh sederhana: Saya makan Basa Lemes: Abdi nuju tuang Basa Loma: Urang keur dahar Tingkatan bahasa ini mengajarkan pentingnya etika dalam komunikasi. Bahasa Sunda tidak dapat dipisahkan dari budaya Sunda. Berbagai kesenian tradisional seperti angklung, wayang golek, dan tari jaipong menggunakan bahasa Sunda sebagai media komunikasi dan ekspresi budaya. Masyarakat Sunda juga dikenal dengan falsafah hidup seperti: Silih asah (saling memberi ilmu), Silih asih (saling menyayangi), Silih asuh (saling membimbing). Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat. Pelestarian Bahasa Sunda Di era modern, penggunaan bahasa daerah mulai mengalami tantangan akibat perkembangan teknologi dan pengaruh bahasa asing. Oleh karena itu, pelestarian bahasa Sunda sangat penting dilakukan. Beberapa upaya pelestarian bahasa Sunda antara lain: Pembelajaran bahasa Sunda di sekolah, Penggunaan bahasa Sunda dalam keluarga, Festival budaya daerah, Konten digital berbahasa Sunda di media sosial. Generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga agar bahasa Sunda tetap hidup dan dikenal oleh masyarakat luas. Penutup Bahasa Sunda bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga identitas budaya yang mencerminkan karakter masyarakat Sunda yang santun dan ramah. Dengan menjaga dan melestarikan bahasa Sunda, kita turut mempertahankan kekayaan budaya Indonesia agar tidak hilang oleh perkembangan zaman.

Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tahun 2026 Tingkat Kota Depok
18 May 2026
Oleh: Malik
Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tahun 2026 Tingkat Kota Depok

Festival Tunas Bahas Ibu (FTBI) merupakan salah satu program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) yang diinisiasi oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikdasmen, serta dilaksanakan di wilayah Provinsi Jawa Barat oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat. Program ini memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk mengekspresikan diri serta diharapkan semakin mencintai bahasa dan sastra Sunda.  Program ini dilaksanakan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan seluruh Pemerintah Daerah Kab/Kota Provinsi Jawa Barat dan diikuti oleh siswa-siswi Jenjang SD dan SMP sederajat dengan 7 mata Lomba. Di antaranya Biantara Basa Sunda, Maca Sajak, Ngadongeng, Nabodor Sorangan (Borangan), Nembang Pupuh, Nulis Aksara Sunda, dan Ngarang Carita Pondok. Melalui sastra dan seni Sunda juga diperoleh nilai-nilai, tata hidup dan sarana kebudayaan sebagai sarana komunikasi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Sebagai wujud aplikasi dari hasil pembelajaran di sekolah, maka Dinas Pendidikan Kota Depok menganggap perlu untuk mengadakan suatu pertunjukan dalam bentuk perlombaan (pasanggiri) hasil pembelajaran bahasa dan sastra Sunda pada jenjang SMP. Maka dari itu, kegiatan ini akan dilaksanakan kembali pada tahun 2026. Informasi lebih lanjut terkait pendaftaran silahkan dapat klik link di bawah ini/klik pop up yang ada di halaman beranda web.https://sundadepok.my.id/formulirpendaftaran-FTBI/  Materi Iringan Pupuh Kota Depok https://sundadepok.my.id/materi/1